Bismillah, banyak cerita apa adanya dari anak seorang penghulu/lebe (sekarang P3N) di pinggiran Jakarta ini.
Rabu, 08 Juli 2009
Kuingat Wajahnya
Tantangan dalam perjalanan menggunakan kendaraan umum misalnya biskota sangat besar bila tidak didampingi oleh kawan seperjalanan yang dapat saling mngingatkan. Walaupun sudah memiliki istri yang cantik dan membuahkan empat orang anak, tetap saja manakala kita melihat wanita lain yang mempesona kita akan terpana dan sempat lupa.Alhamdulillah, buah cinta yang terpelihara memperkuat teguh cinta kpadanya atas cinta yang tertinggi kepada Nya pemilik semua makhluk yang mempesona.
Senin, 29 Juni 2009
Seandainya Penjual Itu Bapakku
Setiap langkahnya terlihat gontai dengan beban yang berat dipunggungnya hingga pada sekian langkah berikutnya yang sekian ratus ia menghentikan teriakannya ketika melihatku tersenyum padanya. Kutanyakan dengan sesopan mungkin...:
"Bapak bawa buah apa saja?"
Ada pisang, pepaya dan semangka...nanas juga ada, mau de?
"Saya mau pisangnya pak, berapa sekilonya?" kataku
Tiga ribu, berat semuanya 3 kg, jadi sembilan ribu rupiah.
Setelah kucek timbangannya kubayar dengan pecahan sepuluh ribu tanpa kuminta kembaliannya setelah sempat ngobrol ringan dengan bapak itu dan sempat kucoba memikul dagangannya, seketika aku melonjak kesakitan.
Subhanallah sungguh berat pekerjaan ini untuk bapak setua itu. Tak mampu kubayangkan lebih jauh apabila bapakku bernasib menjadi penjual buah seperti beliau.
Setiap langkahnya terlihat gontai dengan beban yang berat dipunggungnya hingga pada sekian langkah berikutnya yang sekian ratus ia menghentikan teriakannya ketika melihatku tersenyum padanya. Kutanyakan dengan sesopan mungkin...:
"Bapak bawa buah apa saja?"
Ada pisang, pepaya dan semangka...nanas juga ada, mau de?
"Saya mau pisangnya pak, berapa sekilonya?" kataku
Tiga ribu, berat semuanya 3 kg, jadi sembilan ribu rupiah.
Setelah kucek timbangannya kubayar dengan pecahan sepuluh ribu tanpa kuminta kembaliannya setelah sempat ngobrol ringan dengan bapak itu dan sempat kucoba memikul dagangannya, seketika aku melonjak kesakitan.
Subhanallah sungguh berat pekerjaan ini untuk bapak setua itu. Tak mampu kubayangkan lebih jauh apabila bapakku bernasib menjadi penjual buah seperti beliau.
Selasa, 20 Januari 2009
Cinta-Nya Dalam Tarikan Nafas Kita
Sesaat tak mampu dalam rekam jejak memoriku berapa lamanya diriku terpana terdiam tersedak, Alhamdulillah-Segala puji bagi-Nya kembali mengalir nafasku yang seketika kusadari sangaaaaattt berharga sempat menghilang. Sungguh berharganya luang nafasku, sungguh ruginya aku bila "masa bodoh" dengan panjangnya luang nafas yang ku tak tahu long time yang Dia berikan kapan berakhir. Aku akan terus berjalan bila perlu "ngarondang" (kata emakku saat aku belum mampu berjalan) untuk menggapai yang bisa kugapai dengan tak tulinya pendengaran, tak butanya penglihatan dan tak kotornya hati, terus merenung dan memikirkan apa hikmah semua yang kutemui ini. Dan selanjutnya semoga layar terus berkembang mengiring diriku sang mujahid menemui cinta-Nya, cinta ibu, cinta ayah, cinta kekasih, cinta guru,...cinta semua makhluk-Nya. Doakan semoga diriku TETAP DALAM TAFSIR CINTA-NYA.
Langganan:
Postingan (Atom)