Tampilkan postingan dengan label tafsir cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir cinta. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2012

Menapaki Usia Dalam Cinta

Menapaki Usia Dalam Cinta

Semakin senja umur kita, semakin tertatih kita melangkah menyiapkan sebaik-baik amalan terus menerus tak kenal henti hingga kita mendapatkan akhir yang baik (khusnul khotimah). Sepanjang jantung masih berdetak, anggota badan masih bisa bergerak dan matahari masih terbit di masing-masing ufuk. Kita selalu bersuka cita meraih waktu tersisa dengan berlomba-lomba dalam kebaikan. Memperbaiki diri, keluarga dan kerabat terdekat, lalu masyarakat setempat dan membela negara agar tetap bermartabat.

Dalam menafsirkan cinta kepada keluarga, banyak cita dan rasa yang selalu berbeda-beda tapi selalu mengusahakan kualitas yang sama. Pijakannya adalah iman dan taqwa, ia adalah essensi fundamental yang tak bisa ditawar karena Al Qur'an Nur Karim telah menguatkan hal itu, bagaimana kita selanjutnya menjadikan kitabullah sebagai penawar. Obat keras hati, penguat jantung dan sahabat dalam senang dan susah. Terkadang dalam senang kita lalai dan lupa untuk mngucap syukur dan dalam susah kita sering alpa untuk selalu bersabar dan memohon sebaik-baik petunjukNYA.

Bentuk kecintaan kita kepada keluarga banyak ragam dan cara, walau hati menolak cara-cara kerabat menyikapi permasalahan menyangkut syar'i, terutama ibunda, tapi hubungan silaturahiim diusahakan selalu tetap terjaga. Sebisa-bisa, kudu diusahakan bisa dan Insyaallah bisa.

Bismillah, selalu kita ikhtiarkan segala kebaikan untuk mereka. kerabat terdekat. 
 

Rabu, 19 Mei 2010

Membaca dan Menulis

Iqra bismirabbika! Bacalah dengan menyebut asma-nama Rabb-Tuhanmu ! Membaca, tak sekedar mengeja cepat spontanitas apa yang tertulis. Bacaan yang tak semata tersurat tapi yang tersirat dalam kebesaran dan keelokan serta kesempurnaan penciptaanNya. Keindahan dan kecantikan penghuni makhluk yang Dia ciptakan, sesungguhnya mengundang makhlukNya yang lain dan sesamanya untuk mengenali, menyukai dan mencintai. Cinta karena mengagumi keindahan pada makhlukNya tak mengurangi kecintaan kepadaNYA.

Mengagumi dan mencintai membawa hati tuk membenahi diri melakukan terbaik tak hanya kata terucap tetapi dengan puisi tertulis dari relung hati yang berdzikir mengingatNya sehingga mengalir getaran tinta terpatri dalam jiwa dan gambaran dari kalimat demi kalimat yang tertulis.

Cinta, terbaca dalam tulisan yang tulus dalam arahan wahyu Illahi. Semoga perilaku membawanya pula dalam tulisan sejarah tak terperi.

Selasa, 04 Mei 2010

Membangun Cinta

Saat banyak orang mudah terjatuh dalam cinta hingga sulit bangkit kembali dari jatuhnya bahkan berujung kepada keputus asaan yang melepaskan logika dan kedewasaan berpikir.

Alangkah indahnya bila kita membangun cinta dan menafsirkannya dengan kaca mata kedewasaan berpijak pada keimanan semata tak melulu mengumbar cinta kepada seseorang yang belum tentu berujung dalam mahligai pernikahan. Tetapi dengan membangun cinta kita akan berusaha mencintai seseorang yang kita nikahi. Renungkanlah!

Rabu, 08 Juli 2009

Kuingat Wajahnya

Tantangan dalam perjalanan menggunakan kendaraan umum misalnya biskota sangat besar bila tidak didampingi oleh kawan seperjalanan yang dapat saling mngingatkan. Walaupun sudah memiliki istri yang cantik dan membuahkan empat orang anak, tetap saja manakala kita melihat wanita lain yang mempesona kita akan terpana dan sempat lupa.Alhamdulillah, buah cinta yang terpelihara memperkuat teguh cinta kpadanya atas cinta yang tertinggi kepada Nya pemilik semua makhluk yang mempesona.

Senin, 29 Juni 2009

Seandainya Penjual Itu Bapakku

Setiap langkahnya terlihat gontai dengan beban yang berat dipunggungnya hingga pada sekian langkah berikutnya yang sekian ratus ia menghentikan teriakannya ketika melihatku tersenyum padanya. Kutanyakan dengan sesopan mungkin...:
"Bapak bawa buah apa saja?"
Ada pisang, pepaya dan semangka...nanas juga ada, mau de?
"Saya mau pisangnya pak, berapa sekilonya?" kataku
Tiga ribu, berat semuanya 3 kg, jadi sembilan ribu rupiah.

Setelah kucek timbangannya kubayar dengan pecahan sepuluh ribu tanpa kuminta kembaliannya setelah sempat ngobrol ringan dengan bapak itu dan sempat kucoba memikul dagangannya, seketika aku melonjak kesakitan.

Subhanallah sungguh berat pekerjaan ini untuk bapak setua itu. Tak mampu kubayangkan lebih jauh apabila bapakku bernasib menjadi penjual buah seperti beliau.